Tuesday, October 20, 2026 Loading…
ID EN
Latest
Culture

Gulo Puan Palembang, Manisnya Warisan Kuliner Bangsawan yang Mulai Langka

Di tengah maraknya kuliner modern yang hadir dengan berbagai inovasi, Sumatera Selatan masih menyimpan satu sajian tradisional yang memiliki nilai sejarah tinggi, yakni gulo puan. Kuliner bercita rasa manis gurih ini dikenal sebagai salah satu makanan khas yang erat kaitannya dengan budaya Palembang dan kehidupan masyarakat di wilayah Ogan Komering Ilir, khususnya kawasan Pampangan, Kuro, dan Bang

Gulo Puan Palembang, Manisnya Warisan Kuliner Bangsawan yang Mulai Langka

Gulo puan merupakan olahan tradisional berbahan dasar susu kerbau rawa dan gula. Nama �gulo puan� berasal dari bahasa daerah, yaitu gulo yang berarti gula dan puan yang berarti susu. Secara sederhana, gulo puan dapat diartikan sebagai �gula susu�. Pemerintah melalui data Warisan Budaya Takbenda mencatat Gulo Puan sebagai karya budaya dari Provinsi Sumatera Selatan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, dengan SK Penetapan Nomor 372/M/2021.

Keistimewaan gulo puan tidak hanya terletak pada rasanya, tetapi juga pada sejarahnya. Berdasarkan keterangan dalam data Warisan Budaya Takbenda, gulo puan dahulu dibuat oleh masyarakat Kuro dan Bangsal sebagai bentuk upeti atau pemberian kepada Kesultanan Palembang. Hal ini membuat gulo puan dikenal sebagai makanan yang pernah dekat dengan kalangan bangsawan Palembang.

Proses pembuatan gulo puan membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Susu kerbau biasanya diperah pada pagi hari sebelum matahari terbit atau pada sore hari ketika kerbau kembali. Setelah itu, susu dimasak bersama gula dengan perbandingan tertentu. Dalam catatan Kemendikbud, satu liter susu kerbau dapat dimasak dengan satu kilogram gula pasir, lalu dimasak sekitar empat jam menggunakan wajan dan kayu bakar sambil terus diaduk.

Hasil akhirnya berupa makanan dengan tekstur lembut, legit, dan sedikit berpasir seperti karamel. Rasanya manis, gurih, dan khas karena berasal dari susu kerbau rawa. Di Palembang, gulo puan kerap dinikmati bersama roti, pisang goreng, ketan, atau sebagai teman minum kopi dan teh. Ada pula yang mengolahnya sebagai isian kue atau campuran makanan penutup.

Namun, keberadaan gulo puan kini tidak mudah ditemui. Salah satu penyebabnya adalah bahan baku susu kerbau rawa yang semakin terbatas. RRI Palembang melaporkan bahwa gulo puan termasuk kuliner tradisional khas Sumatera Selatan yang kini tergolong langka, dengan bahan utama susu kerbau rawa dan gula yang dimasak lama hingga bertekstur seperti karamel berpasir.

Kelangkaan tersebut justru membuat gulo puan memiliki nilai ekonomi dan budaya yang semakin tinggi. Para pelaku UMKM yang masih mempertahankan produksi gulo puan berperan penting dalam menjaga warisan kuliner ini agar tidak hilang ditelan zaman. Menurut pemberitaan RRI, salah satu tantangan produksi gulo puan adalah ketersediaan bahan baku serta proses pengadukan yang memakan waktu lama dan membutuhkan tenaga.

Bagi masyarakat Palembang, gulo puan bukan sekadar makanan manis. Ia adalah simbol hubungan antara alam rawa, peternakan kerbau, tradisi masyarakat desa, dan sejarah Kesultanan Palembang. Setiap suapan gulo puan menyimpan cerita panjang tentang kearifan lokal dan cara masyarakat menjaga cita rasa leluhur.

Pelestarian gulo puan membutuhkan dukungan banyak pihak, mulai dari pemerintah daerah, pelaku UMKM, komunitas kuliner, hingga generasi muda. Promosi melalui festival kuliner, media sosial, paket oleh-oleh khas Sumatera Selatan, serta edukasi sejarah makanan tradisional dapat menjadi langkah penting agar gulo puan semakin dikenal luas.

Di tengah perubahan zaman, gulo puan membuktikan bahwa kuliner tradisional tetap memiliki tempat istimewa. Rasanya yang khas, sejarahnya yang kuat, dan proses pembuatannya yang penuh ketelatenan menjadikan gulo puan sebagai salah satu kekayaan kuliner Palembang yang patut dibanggakan dan dilestarikan.

Comments 0

No comments yet. Be the first!

Comments are closed.